Kan Masih Ada Hari Esok
Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam
keluarga yang bahagia,
dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu
menganggap itu
sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu adik
dan kakaknya,
membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.
Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia
selalu berkata, "Tidak
apa-apa, besok kan
bisa."
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia
belajar, mendapat
teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu
wajar-wajar aja. Semua begitu
saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya.
Suatu hari, dia
berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah,
tapi tidak pernah
mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan
teman baiknya.
Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya
lagi. Walaupun dia
masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah
saling tegur. Tapi
itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman
baik yang lain. Dia
dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama,
main, kerjakan PR, dan
jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling
baik.
Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang
wanita yang sangat
cantik dan baik. Wanita ini kemudian menjadi pacarnya. Dia
begitu sibuk dengan
kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling
tinggi dalam waktu yang
sesingkat mungkin.
Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia
tidak pernah lagi
menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu
berkata, "Ah, aku capek,
besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu
mengganggu dia karena dia
punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.
Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk
menelepon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras
agar dalam
membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli
bunga untuk istrinya,
atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari
pernikahan mereka.
Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti
dia, dan tidak pernah
menyalahkannya.
Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin
punya kesempatan untuk
mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi
dia tidak pernah melakukannya.
Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan
mengatakannya."
Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun
anak-anaknya, tapi dia tidak
tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai
menjauhinya, dan
tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan
ayahnya.
Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam
kecelakaan, istrinya
ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada
rapat. Dia tidak
sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat
istrinya akan
dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta
kamu", istrinya telah meninggal
dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur
diri melalui anak-anaknya
setelah kematian istrinya.
Tapi, dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau
berkomunikasi dengannya.
Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya
masing-masing. Tidak ada
yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak
pernah meluangkan
waktunya untuk mereka.
Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik,
yang menyediakan
pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula
disimpannya untuk
perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula
uang itu akan
dipakainya untuk pergi ke Hawaii,
New Zealand,
dan negara-negara lain bersama
istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal
di rumah jompo
tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada
orang-orang tua dan suster
yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan
yang tidak pernah dia
rasakan sebelumnya.
Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan
berkata kepadanya, "Ah,
Andai saja aku menyadari ini dari dulu...." Kemudian
perlahan ia menghembuskan
napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan airmata di
pipinya.
Apa yang saya ingin coba katakan pada Anda, waktu itu nggak
pernah berhenti.
Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari,
Anda ternyata telah
maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera
berbaikanlah! Jika kamu
merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu
untuk meneleponnya
segera.
Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa
kamu ingin bilang sama
seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai
terlambat. Jika kamu terus
pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari
ini tidak pernah akan
datang.
Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka
"besok" akan pergi begitu
cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah
meninggalkanmu. (SM)
Kekuatan Impian
Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya akan
keindahan mimpi-mimpi
mereka.
Impian adalah ambisi dari dalam diri manusia yang menjadi
penggerak untuk maju.
Impian merupakan hasrat yang akan menggerakkan manusia untuk
mewujudkannya.
Dunia ini bertumbuh dengan peradaban yang lebih tinggi dan
tehnologi yang lebih
hebat itu berkat impian orang-orang besar. Orang-orang besar
itu adalah para
pemimpi.
Menurut Francis Ford Coppola, "It was the man's dream,
and his inspiring attempt
to make them come true that remain important. ? Itu mimpi
manusia yang
terpenting, dan upayanya yang inspiratif mengupayakan mimpi
itu menjadi
kenyataan." Kemajuan kehidupan saat ini merupakan hasil
impian generasi
pendahulu kita.
Mereka yang tidak mempunyai impian meninggalkan banyak hal
yang ditawarkan oleh
kehidupan. Hasrat atau kegigihan mereka mudah sekali pudar,
sehingga mereka
dengan mudah mengubah impian mereka menjadi sangat
sederhana. Padahal, impian
yang besar mempunyai kekuatan yang besar pula. Orang-orang
yang berhasil
mencatat nama dalam sejarah rata-rata mempunyai ciri khas
yaitu selalu mampu
memperbarui impian mereka.
Impian Merupakan Sumber Motivasi
Impian akan mempengaruhi pikiran bawah sadar. Misalnya kita
memimpikan sebuah
kamera merek A, maka kita menjadi lebih jeli memperhatikan
benda tersebut.
Tantangan berat yang harus dihadapi bukan sesuatu yang
berarti jika impian sudah
menjadi nafas kita. "It may be that those who do most,
dream most, - Mereka
mengerjakan sesuatu dengan giat, sebab mereka sangat
memimpikannya," kata
Stephen Butler
Leacock.
Bahkan impian dapat menjamin keberhasilan, karena senantiasa
menjadi sumber
motivasi hingga mencapai tujuan atau menggapai tujuan
selanjutnya. Dorongan
motivasi itulah yang akan menggerakkan tubuh dan mengatur
strategi yang harus
ditempuh, misalnya bagaimana mencari informasi dan menjalin
komunikasi maupun
bekerjasama dengan orang lain.
Nelson Mandela, sebelum menjadi Presiden Afrika Selatan, ia
harus berjuang untuk
sebuah impian negara Afrika Selatan yang berdaulat. Untuk
itu ia menghadapi
tantangan teramat berat. Impian selalu memotivasi Nelson
Mandela untuk tetap
berjuang, meskipun ia harus merelakan sebagian besar
waktunya dibalik terali
besi. Impian merupakan sumber semangat bagi Nelson, hingga
Afrika Selatan benar-benar
merdeka.
Sebenarnya, kitapun dapat memperbarui nilai dan
menyempurnakan jati
diri dengan kekuatan impian. Jadi jangan takut untuk
bermimpi akan
hal-hal yang besar, sebab impian menimbulkan hasrat yang
kuat untuk meraihnya.
Impian mampu berperan sebagai sumber motivasi, yang
membangkitkan ambisi dan
optimisme, sehingga kita mampu melampaui semua rintangan dan
kesulitan.
Impian Menciptakan Energi Besar untuk Berprestasi
Impian menjadikan manusia penuh vitalitas dalam bekerja.
Impian itu sendiri
sebenarnya merupakan sumber energi menghadapi tantangan yang
tidak gampang.
Menurut Anais Nin, "Hidup ini mengerut atau berkembang
sesuai dengan keteguhan
hati seseorang." Ada
4 tips sederhana guna menjadikan impian sebagai sumber
energi kita yaitu disingkat dengan kata PLUS, yaitu;
percaya, loyalitas, ulet
dan sikap mental positif.
Rasa percaya menjadikan seseorang pantang menyerah, meskipun
mungkin orang lain
mengkritik atau menghalangi. Kepercayaan itu juga membentuk
kesadaran bahwa
manusia diciptakan di dunia ini sebagai pemenang. Tips yang
kedua adalah
loyalitas atau fokus untuk merealisasikan impian. Untuk
mendapatkan daya dorong
yang luar biasa, maka tentukan pula target waktu.
Tips yang ketiga adalah ulet. Sebuah impian menjadikan
seseorang bekerja lebih
lama dan keras. Sedangkan tips yang ke empat adalah sikap
mental positif.
Seseorang yang mempunyai impian memahami bahwa keberhasilan
memerlukan
pengorbanan, kerja keras dan komitmen, waktu serta dukungan
dari orang lain.
Oleh sebab itu, mereka selalu bersemangat mengembangkan
kemampuan tanpa henti
dan mencapai kemajuan terus menerus hingga tanpa batas.
Impian yang sudah
menjadi nafas kehidupan merupakan daya dorong yang luar biasa.
Impian Menjadikan Kehidupan Manusia Lebih Mudah Dijalani
Impian menjadikan manusia lebih kuat menghadapi segala
rintangan dan tantangan.
Sebab impian dapat menimbulkan kemauan keras untuk
merealisasikannya. Para
pencipta puisi Belanda atau Dutch Poet's Society mengatakan
"Nothing is
difficult to those who have the will, -Tidak ada sesuatupun
yang sulit selama
masih ada kemauan."
Bob William mampu berlari dengan menggunakan kedua tangan.
Ia tidak merasakan
sakit di tangannya. Sebab sebuah tujuan yang berarti
menjadikan segala sesuatu
dapat dilakukan dengan mudah dan menyenangkan.
Kunci kebahagiaan adalah mempunyai impian. Sedangkan kunci
kesuksesan itu
sendiri adalah mewujudkan impian. George Lucas mengatakan,
"Dreams are extremely
important. You can't do it unless you imagine it, - Impian
sangatlah penting.
Kau tidak akan dapat melakukan apa-apa sebelum kau
membayangkannya."
Jadi jangan takut memimpikan sesuatu. Jadikan impian
tersebut sebagai nafas
kehidupan. Sebab impian yang kuat justru menjadikan
perjuangan yang berat saat
menggapainya sebagai sarana latihan mengoptimalkan
kekuatan-kekuatan yang lain,
misalnya kekuatan emosi, fisik, maupun rohani.*
Nyanyian Seorang
Kakak
Seorang
ibu muda, Karen namanya, sedang mengandung bayinya yang kedua.
Sebagaimana
layaknya para ibu, Karen membantu Michael, anaknya yang pertama yang
baru
berusia 3 tahun, untuk menerima kehadiran adiknya. Michael senang sekali.
Kerap
kali ia menempelkan telinganya di perut ibunya. Dan karena Michael suka
bernyanyi,
ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu.
Tiba
saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi
komplikasi
serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan.
Seorang
bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter
yang
merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen, "Bersiaplah jika
sesuatu
yang
tidak kita inginkan terjadi." Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan
dengan
sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah
menyiapkan
acara penguburan buat putrinya bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.
Lain
halnya dengan Michael. Sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!
"Mami...
aku
mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami... aku
pengen
nyanyi!!"
Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. "Mami.... aku
kepengen
nyanyi!!!" Itu berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung
menangis.
Karen tetap menganggap rengekan Michael sebagai rengekan anak kecil.
Lagi
pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika harapan
menipis,
sang ibu mau mendengarkan Michael. "Baik, setidaknya biar Michael
melihat
adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!"
batinnya.
Ia
dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. "Anak kecil dilarang
masuk!"
Karen
ragu-ragu. "Tapi, suster...." suster tak mau tahu. "Ini
peraturan! Anak
kecil
dilarang dibawa masuk!"
Karen
menatap tajam suster itu, lalu berkata, "Suster, sebelum diizinkan
bernyanyi
buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang
terakhir
kalinya bagi Michael melihat adiknya!" Suster terdiam menatap Michael
dan
berkata, "Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!"
Demikianlah,
kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk
ke
ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul
maut.
Michael menatap lekat adiknya... Lalu dari mulutnya yang kecil mungil
keluarlah
suara nyanyian yang nyaring "You are my sunshine, my only sunshine,
you
make me happy when skies are grey...."
Ajaib!
Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari
kakaknya.
"You never know, dear, How much I love you. Please don't take my
sunshine
away."
Denyut
nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya
dengan
tajam dan, "Terus.... terus Michael! Teruskan sayang...," bisik
ibunya
sambil
menangis.
"The
other night, dear, as I laid sleeping, I dreamt, I held you in my..." Dan,
Sang
adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi
teratur..."
I'll always love you and make you happy, if you will only stay the
same..."
Sang adik kelihatan begitu tenang, sangat tenang.
"Lagi
sayang..." bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus
bernyanyi
dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, rileks dan damai... lalu
tertidur
lelap.
Suster
yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa
yang
telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia
saksikan
sendiri.
Hari
berikutnya, satu hari kemudian, si adik bayi sudah diperbolehkan pulang.
Para tenaga medis
tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu
ini.
Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah terapi ajaib, dan Karen juga
suaminya
melihatnya sebagai mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat
luar
biasa!
Bagi
sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa
memang
Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut
kecil
si Michael untuk mengatakan "How much I love you".
Dan
ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil
"Michael"
untuk
memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagi-NYA
bila
IA menghendaki terjadi. (SM)
Renungan Jumat: Si
Bapak Tua
Siang hari, suasana pelabuhan
Tanjung Priok ini sungguh sangat menyengat. Panas dan gersang sudah merupakan
cuaca yang akrab ditemui di sini. Dengan langkah malas aku menuju ke warung
nasi terdekat untuk mengisi perut ini. Terlihat di sekitarku kegiatan bongkar
muat di pelabuhan. Kontainer yang naik dan turun dari kapal laut, para pekerja
yang sibuk mengangkut barang yang akan dikirimkan, dan para mandor yang sibuk
berteriak mengatur para pekerjanya. Truk besar kecil, truk kontainer, forklift
dan kendaraan lainnya yang tak hentinya berlalu lalang. Kegiatan di sini tak
pernah ada kata diam.
Selesai makan, aku langsung
menuju kantorku. "Lebih baik aku di kantor yang sejuk daripada di luar
yang sudah pasti panas dan membuat berkeringat ini." Ah, sejenak kulihat
pekerja-pekerja yang tanpa komando berjalan teratur menuju sebuah kontainer.
Rupanya ada perusahaan yang sedang melakukan bongkar muat gula pasir.
"Pasti ini impor deh, dan yang sudah pasti ketahuan ruginya dalah para
petani gula lokal kita," batin ini menyelisik.
Angkat karung, turunkan, angkat
lagi, turunkan. Kuperhatikan dari jauh apa yang dilakukan pekerja itu. Tunggu
dulu, aku lihat seraut wajah bapak tua yang masih menjadi pekerja. Dari garis
mukanya kutaksir dia sudah tidak pantas untuk bekerja sekeras ini. Duh, hati
ini seperti teriris. Esok lusa aku sempat berpapasan dengan bapak tua itu yang
sedang menikmati sarapannya di sebuah gudang tua. Dari perawakannya dia masih
tampak bugar walaupun guratan-guratan ketuaan sudah jelas tampak di sana sini. Segera kusapa
dia, "Sedang sarapan, Pak?" tanyaku.
"Ya, Dik. Buat isi perut.
Adik yang kerja di kantor itu?" dengan logat sunda kulon kental dia balas
bertanya sambil menunjuk ke arah kantorku.
"Ya, Pak. Bapak sudah lama kerja
di sini?" aku mulai mencari tahu.
"Yah, begitulah. Bapak sudah
puluhan tahun di sini. Maklum, pendidikan minim, daripada menganggur. Saya
harus menghidupi keluarga," jawab si Bapak dengan raut sedikit muram.
Sambil membungkus sisa nasi yang
tadi dimakan, lalu diselipkan di sela dinding ruangan tempat dia istirahat. Di
tempat itu banyak juga pekerja lain yang istirahat di sini.
"Nasinya buat nanti siang
lagi, lumayan buat ngirit," jelas si Bapak tanpa menunggu aku bertanya.
"Saya mengerti, Pak. Semoga
Allah memberikan barakah atas setiap rezeki yang Bapak peroleh," aku
menjawab dengan senyum getir dan juga sayatan pilu kembali di hati ini. Sungguh
aku terhenyak melihat enyataan di hadapanku ini.
Si Bapak juga menjelaskan bahwa
ia dibayar perkarung yang dia angkat sebesar seratus rupiah. Ya Allah, berapa
karung yang harus ia angkat supaya bisa mencukupi kebutuhan keluarganya di
kampung sana.
Aku langsung terdiam dan merasa malu pada diri ini yang kadang tidak puas akan
rezeki yang Allah berikan.
"Alhamdulilllah, kalo bisa
bawa pulang dua ratus ribu buat keluarga di rumah," lanjutnya.
"Makasih, Pak. Nanti kita
sambung lagi," sambil tersenyum aku pamit, karena jam kerja sudah dimulai
pagi ini.
Dengan langkah gontai aku kembali
ke kantor dan meneruskan pekerjaanku sebagai teknisi. Terekam jelas perdebatan
beberapa kawan kerjaku beberapa hari yang lalu yang ingin segera menuntut naik
gaji. Pembicaraan yang alot yang kulihat rona wajah penuh ambisi tak berujung
di wajah mereka. Sungguh, aku sudah tak bersemangat lagi mengikuti pembicaraan
kawan-kawan mengenai hal itu setelah mengobrol dengan si Bapak Tua.
Pesan bapak mertua di rumah juga
masih kuingat baik-baik, "Nak, bekerjalah bersungguh-sungguh, jika kau
tidak suka atau kurang puas, silahkan keluar. Itu lebih jantan daripada kamu
membuat hal yang tidak baik di tempat kerja. Banyak bersyukur karena tidak
banyak orang yang bisa bekerja saat ini." Sangat kontras apa yang Allah
perlihatkan kepadaku kali ini. Semoga setiap diri ini bisa bersyukur dan istiqomah
dalam syukurnya kepada Dzat Yang Maha Pemberi.
"Dan (ingatlah juga),
tatkala Allah mengatakan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami
akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim: 7)
Sebuah Ciuman Selamat Tinggal
Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan
menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.
"Waduhhh,memalukan sekali aku ini, diusia tua kok tambah
ngaco.."
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua
mulai menceritakan Saat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah
lain-lainnya.
"Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang
paling tak enak bagimu dulu." Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa
kecilnya.
"Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat
pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata
pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut
sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan Cuma cukup
buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan saudara-saudara
lainnya yang masih di rumah."
Ia menatap kami dan berkata, "Ahhh, seandainya kalian sempat
bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan
memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia
sudah mirip kayak lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang
terbuat dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan
hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku
mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan."
Suara Frank mulai merendah sedikit.
"Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil
truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua
umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang
perjalanan. Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah
bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap
semoga bisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem
mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia
akan selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan
berdiri mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan,
dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yang
baik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur
dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat
tinggal!"
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, "Aku ingat hari ketika
kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal.
Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum
lebar. Ia mulai memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan
berkata, 'Jangan, ayah.' Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah
ayah tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, 'Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat
tinggal. Sebetulnya sudah terlalu tua
bagi segala macam kecupan.'
Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai
basah.
Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya,
pandangannya menerawang menembus kaca depan. 'Kau benar,' katanya. 'Kau sudah jadi pemuda besar......seorang
pria. Aku tak akan menciumimu lagi.'"
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua
matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya. "Tidak lama setelah itu, ayah
pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika
sebagian besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak.
Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan. Kapalnya ditemukan terapung
dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya lagi masih ada dilaut.
Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua
pengapung-pengapungnya."
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, "Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa
yang akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada
pipiku....untuk merasakan wajah tuanya yang kasar......untuk mencium bau air
laut dan samudra padanya.....untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul
leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau aku seorang
pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku
terlalu tua 'tuk sebuah ciuman selamat tinggal."
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih
kita.....
oleh : Thomas Charles Clary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar