Selasa, 10 Januari 2012

Kisah Motivasi


Kan Masih Ada Hari Esok

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia,
dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu
sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya,
membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.

Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, "Tidak
apa-apa, besok kan bisa."

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat
teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu
saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia
berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah
mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya.
Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia
masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi
itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia
dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan
jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang wanita yang sangat
cantik dan baik. Wanita ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan
kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang
sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi
menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek,
besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia
punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.

Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam
membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya,
atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka.
Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah
menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk
mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya.
Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya."

Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak
tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan
tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya
ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak
sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan
dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya telah meninggal
dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya
setelah kematian istrinya.

Tapi, dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya.
Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada
yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan
waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan
pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk
perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan
dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama
istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo
tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster
yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia
rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah,
Andai saja aku menyadari ini dari dulu...." Kemudian perlahan ia menghembuskan
napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan airmata di pipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada Anda, waktu itu nggak pernah berhenti.
Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, Anda ternyata telah
maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah! Jika kamu
merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya
segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama
seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus
pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan
datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu
cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu. (SM)


Kekuatan Impian

Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi
mereka.

Impian adalah ambisi dari dalam diri manusia yang menjadi penggerak untuk maju.
Impian merupakan hasrat yang akan menggerakkan manusia untuk mewujudkannya.
Dunia ini bertumbuh dengan peradaban yang lebih tinggi dan tehnologi yang lebih
hebat itu berkat impian orang-orang besar. Orang-orang besar itu adalah para
pemimpi.

Menurut Francis Ford Coppola, "It was the man's dream, and his inspiring attempt
to make them come true that remain important. ? Itu mimpi manusia yang
terpenting, dan upayanya yang inspiratif mengupayakan mimpi itu menjadi
kenyataan." Kemajuan kehidupan saat ini merupakan hasil impian generasi
pendahulu kita.

Mereka yang tidak mempunyai impian meninggalkan banyak hal yang ditawarkan oleh
kehidupan. Hasrat atau kegigihan mereka mudah sekali pudar, sehingga mereka
dengan mudah mengubah impian mereka menjadi sangat sederhana. Padahal, impian
yang besar mempunyai kekuatan yang besar pula. Orang-orang yang berhasil
mencatat nama dalam sejarah rata-rata mempunyai ciri khas yaitu selalu mampu
memperbarui impian mereka.

Impian Merupakan Sumber Motivasi

Impian akan mempengaruhi pikiran bawah sadar. Misalnya kita memimpikan sebuah
kamera merek A, maka kita menjadi lebih jeli memperhatikan benda tersebut.
Tantangan berat yang harus dihadapi bukan sesuatu yang berarti jika impian sudah
menjadi nafas kita. "It may be that those who do most, dream most, - Mereka
mengerjakan sesuatu dengan giat, sebab mereka sangat memimpikannya," kata
Stephen Butler Leacock.

Bahkan impian dapat menjamin keberhasilan, karena senantiasa menjadi sumber
motivasi hingga mencapai tujuan atau menggapai tujuan selanjutnya. Dorongan
motivasi itulah yang akan menggerakkan tubuh dan mengatur strategi yang harus
ditempuh, misalnya bagaimana mencari informasi dan menjalin komunikasi maupun
bekerjasama dengan orang lain.

Nelson Mandela, sebelum menjadi Presiden Afrika Selatan, ia harus berjuang untuk
sebuah impian negara Afrika Selatan yang berdaulat. Untuk itu ia menghadapi
tantangan teramat berat. Impian selalu memotivasi Nelson Mandela untuk tetap
berjuang, meskipun ia harus merelakan sebagian besar waktunya dibalik terali
besi. Impian merupakan sumber semangat bagi Nelson, hingga Afrika Selatan benar-benar
merdeka.

Sebenarnya, kitapun dapat memperbarui nilai dan menyempurnakan jati
diri dengan kekuatan impian. Jadi jangan takut untuk bermimpi akan
hal-hal yang besar, sebab impian menimbulkan hasrat yang kuat untuk meraihnya.
Impian mampu berperan sebagai sumber motivasi, yang membangkitkan ambisi dan
optimisme, sehingga kita mampu melampaui semua rintangan dan kesulitan.

Impian Menciptakan Energi Besar untuk Berprestasi

Impian menjadikan manusia penuh vitalitas dalam bekerja. Impian itu sendiri
sebenarnya merupakan sumber energi menghadapi tantangan yang tidak gampang.
Menurut Anais Nin, "Hidup ini mengerut atau berkembang sesuai dengan keteguhan
hati seseorang." Ada 4 tips sederhana guna menjadikan impian sebagai sumber
energi kita yaitu disingkat dengan kata PLUS, yaitu; percaya, loyalitas, ulet
dan sikap mental positif.

Rasa percaya menjadikan seseorang pantang menyerah, meskipun mungkin orang lain
mengkritik atau menghalangi. Kepercayaan itu juga membentuk kesadaran bahwa
manusia diciptakan di dunia ini sebagai pemenang. Tips yang kedua adalah
loyalitas atau fokus untuk merealisasikan impian. Untuk mendapatkan daya dorong
yang luar biasa, maka tentukan pula target waktu.

Tips yang ketiga adalah ulet. Sebuah impian menjadikan seseorang bekerja lebih
lama dan keras. Sedangkan tips yang ke empat adalah sikap mental positif.
Seseorang yang mempunyai impian memahami bahwa keberhasilan memerlukan
pengorbanan, kerja keras dan komitmen, waktu serta dukungan dari orang lain.
Oleh sebab itu, mereka selalu bersemangat mengembangkan kemampuan tanpa henti
dan mencapai kemajuan terus menerus hingga tanpa batas. Impian yang sudah
menjadi nafas kehidupan merupakan daya dorong yang luar biasa.

Impian Menjadikan Kehidupan Manusia Lebih Mudah Dijalani

Impian menjadikan manusia lebih kuat menghadapi segala rintangan dan tantangan.
Sebab impian dapat menimbulkan kemauan keras untuk merealisasikannya. Para
pencipta puisi Belanda atau Dutch Poet's Society mengatakan "Nothing is
difficult to those who have the will, -Tidak ada sesuatupun yang sulit selama
masih ada kemauan."

Bob William mampu berlari dengan menggunakan kedua tangan. Ia tidak merasakan
sakit di tangannya. Sebab sebuah tujuan yang berarti menjadikan segala sesuatu
dapat dilakukan dengan mudah dan menyenangkan.

Kunci kebahagiaan adalah mempunyai impian. Sedangkan kunci kesuksesan itu
sendiri adalah mewujudkan impian. George Lucas mengatakan, "Dreams are extremely
important. You can't do it unless you imagine it, - Impian sangatlah penting.
Kau tidak akan dapat melakukan apa-apa sebelum kau membayangkannya."

Jadi jangan takut memimpikan sesuatu. Jadikan impian tersebut sebagai nafas
kehidupan. Sebab impian yang kuat justru menjadikan perjuangan yang berat saat
menggapainya sebagai sarana latihan mengoptimalkan kekuatan-kekuatan yang lain,
misalnya kekuatan emosi, fisik, maupun rohani.*



Nyanyian Seorang Kakak

Seorang ibu muda, Karen namanya, sedang mengandung bayinya yang kedua.
Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael, anaknya yang pertama yang
baru berusia 3 tahun, untuk menerima kehadiran adiknya. Michael senang sekali.
Kerap kali ia menempelkan telinganya di perut ibunya. Dan karena Michael suka
bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi
komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan.
Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter
yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen, "Bersiaplah jika sesuatu
yang tidak kita inginkan terjadi." Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan
dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah
menyiapkan acara penguburan buat putrinya bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan Michael. Sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami...
aku mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami... aku pengen
nyanyi!!" Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. "Mami.... aku
kepengen nyanyi!!!" Itu berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung
menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael sebagai rengekan anak kecil.
Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika harapan
menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. "Baik, setidaknya biar Michael
melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!"
batinnya.

Ia dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. "Anak kecil dilarang masuk!"
Karen ragu-ragu. "Tapi, suster...." suster tak mau tahu. "Ini peraturan! Anak
kecil dilarang dibawa masuk!"

Karen menatap tajam suster itu, lalu berkata, "Suster, sebelum diizinkan
bernyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang
terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!" Suster terdiam menatap Michael
dan berkata, "Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!"

Demikianlah, kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk
ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul
maut. Michael menatap lekat adiknya... Lalu dari mulutnya yang kecil mungil
keluarlah suara nyanyian yang nyaring "You are my sunshine, my only sunshine,
you make me happy when skies are grey...."

Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari
kakaknya. "You never know, dear, How much I love you. Please don't take my
sunshine away."

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya
dengan tajam dan, "Terus.... terus Michael! Teruskan sayang...," bisik ibunya
sambil menangis.

"The other night, dear, as I laid sleeping, I dreamt, I held you in my..." Dan,
Sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi
teratur..." I'll always love you and make you happy, if you will only stay the
same..." Sang adik kelihatan begitu tenang, sangat tenang.

"Lagi sayang..." bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus
bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, rileks dan damai... lalu
tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa
yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia
saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian, si adik bayi sudah diperbolehkan pulang.
Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu
ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah terapi ajaib, dan Karen juga
suaminya melihatnya sebagai mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat
luar biasa!

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa
memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut
kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you".

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil "Michael"
untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagi-NYA
bila IA menghendaki terjadi. (SM) 


Renungan Jumat: Si Bapak Tua

Siang hari, suasana pelabuhan Tanjung Priok ini sungguh sangat menyengat. Panas dan gersang sudah merupakan cuaca yang akrab ditemui di sini. Dengan langkah malas aku menuju ke warung nasi terdekat untuk mengisi perut ini. Terlihat di sekitarku kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Kontainer yang naik dan turun dari kapal laut, para pekerja yang sibuk mengangkut barang yang akan dikirimkan, dan para mandor yang sibuk berteriak mengatur para pekerjanya. Truk besar kecil, truk kontainer, forklift dan kendaraan lainnya yang tak hentinya berlalu lalang. Kegiatan di sini tak pernah ada kata diam.

Selesai makan, aku langsung menuju kantorku. "Lebih baik aku di kantor yang sejuk daripada di luar yang sudah pasti panas dan membuat berkeringat ini." Ah, sejenak kulihat pekerja-pekerja yang tanpa komando berjalan teratur menuju sebuah kontainer. Rupanya ada perusahaan yang sedang melakukan bongkar muat gula pasir. "Pasti ini impor deh, dan yang sudah pasti ketahuan ruginya dalah para petani gula lokal kita," batin ini menyelisik.

Angkat karung, turunkan, angkat lagi, turunkan. Kuperhatikan dari jauh apa yang dilakukan pekerja itu. Tunggu dulu, aku lihat seraut wajah bapak tua yang masih menjadi pekerja. Dari garis mukanya kutaksir dia sudah tidak pantas untuk bekerja sekeras ini. Duh, hati ini seperti teriris. Esok lusa aku sempat berpapasan dengan bapak tua itu yang sedang menikmati sarapannya di sebuah gudang tua. Dari perawakannya dia masih tampak bugar walaupun guratan-guratan ketuaan sudah jelas tampak di sana sini. Segera kusapa dia, "Sedang sarapan, Pak?" tanyaku.

"Ya, Dik. Buat isi perut. Adik yang kerja di kantor itu?" dengan logat sunda kulon kental dia balas bertanya sambil menunjuk ke arah kantorku.

"Ya, Pak. Bapak sudah lama kerja di sini?" aku mulai mencari tahu.

"Yah, begitulah. Bapak sudah puluhan tahun di sini. Maklum, pendidikan minim, daripada menganggur. Saya harus menghidupi keluarga," jawab si Bapak dengan raut sedikit muram.

Sambil membungkus sisa nasi yang tadi dimakan, lalu diselipkan di sela dinding ruangan tempat dia istirahat. Di tempat itu banyak juga pekerja lain yang istirahat di sini.

"Nasinya buat nanti siang lagi, lumayan buat ngirit," jelas si Bapak tanpa menunggu aku bertanya.

"Saya mengerti, Pak. Semoga Allah memberikan barakah atas setiap rezeki yang Bapak peroleh," aku menjawab dengan senyum getir dan juga sayatan pilu kembali di hati ini. Sungguh aku terhenyak melihat enyataan di hadapanku ini.

Si Bapak juga menjelaskan bahwa ia dibayar perkarung yang dia angkat sebesar seratus rupiah. Ya Allah, berapa karung yang harus ia angkat supaya bisa mencukupi kebutuhan keluarganya di kampung sana. Aku langsung terdiam dan merasa malu pada diri ini yang kadang tidak puas akan rezeki yang Allah berikan.

"Alhamdulilllah, kalo bisa bawa pulang dua ratus ribu buat keluarga di rumah," lanjutnya.

"Makasih, Pak. Nanti kita sambung lagi," sambil tersenyum aku pamit, karena jam kerja sudah dimulai pagi ini.

Dengan langkah gontai aku kembali ke kantor dan meneruskan pekerjaanku sebagai teknisi. Terekam jelas perdebatan beberapa kawan kerjaku beberapa hari yang lalu yang ingin segera menuntut naik gaji. Pembicaraan yang alot yang kulihat rona wajah penuh ambisi tak berujung di wajah mereka. Sungguh, aku sudah tak bersemangat lagi mengikuti pembicaraan kawan-kawan mengenai hal itu setelah mengobrol dengan si Bapak Tua.

Pesan bapak mertua di rumah juga masih kuingat baik-baik, "Nak, bekerjalah bersungguh-sungguh, jika kau tidak suka atau kurang puas, silahkan keluar. Itu lebih jantan daripada kamu membuat hal yang tidak baik di tempat kerja. Banyak bersyukur karena tidak banyak orang yang bisa bekerja saat ini." Sangat kontras apa yang Allah perlihatkan kepadaku kali ini. Semoga setiap diri ini bisa bersyukur dan istiqomah dalam syukurnya kepada Dzat Yang Maha Pemberi.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Allah mengatakan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim: 7)





Sebuah Ciuman Selamat Tinggal

Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.
"Waduhhh,memalukan sekali aku ini, diusia tua kok tambah ngaco.."
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua mulai menceritakan Saat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah lain-lainnya.
"Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak enak bagimu dulu." Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.
"Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan Cuma cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan saudara-saudara lainnya yang masih di rumah."
Ia menatap kami dan berkata, "Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan."
Suara Frank mulai merendah sedikit.
"Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan. Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semoga bisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yang baik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat tinggal!"
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, "Aku ingat hari ketika kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal. Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar. Ia mulai memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata, 'Jangan, ayah.' Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, 'Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal.  Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan.'
Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.
Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya, pandangannya menerawang menembus kaca depan. 'Kau benar,' katanya.  'Kau sudah jadi pemuda besar......seorang pria. Aku tak akan menciumimu lagi.'"
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya. "Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak. Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan. Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya lagi masih ada dilaut. Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapungnya."
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, "Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada pipiku....untuk merasakan wajah tuanya yang kasar......untuk mencium bau air laut dan samudra padanya.....untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau aku seorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua 'tuk sebuah ciuman selamat tinggal."
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih kita.....
oleh : Thomas Charles Clary









Tidak ada komentar:

Posting Komentar